Polisi Kalbar Tangkap Bajak Laut, 4 Pelaku Masih Anak-anak

Rabu, 27 April 2016 | 19:20 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com – Direktorat Polisi Perairan (Dit Polair) Polda Kalimantan Barat menangkap 5 orang terkait aksi pembajakan kapal tugboat Arwana di perairan Sungai Landak, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (26/4/2016).

Dari 5 pelaku yang ditangkap, empat di antaranya merupakan anak di bawah umur.

Wakil Direktur Dit Polair Polda Kalbar, AKBP Andreas Widihandoko mengatakan, dari lima pelaku yang ditangkap, polisi sudah menetapkan satu orang sebagai tersangka, yaitu Zulkifli (24) yang merupakan otak pelaku.

Informasi terkait adanya aksi kejahatan yang dialami kapal tugboat berawal dari laporan nakhoda kapal TB Arwana pada tanggal 25 April 2016.

Dalam laporan tersebut, nakhoda mengaku sering menjadi korban aksi kejahatan berupa pencurian dan pemalakan oleh sekelompok orang tidak dikenal.

Menindaklanjuti informasi tersebut, kata Widihandoko, Dit Polair kemudian menurunkan anggota yang menyamar sebagai anak buah kapal. Kemudian, pada Selasa (26/4/2016), aksi serupa kembali terjadi dan polisi berhasil membekuk pelaku.

Mengetahui keberadaan polisi di atas kapal, Zulkifli kemudian berusaha melakukan perlawanan. Polisi yang menyamar pun kemudian melepaskan tembakan peringatan.

“Dia (Zulkifli) melakukan perlawanan dan dikasih tembakan peringatan. Karena kondisi tongkang yang ditarik tugboat itu licin, dia kemudian terjatuh dan mengalami luka sehingga kita bawa ke Dokes untuk mendapatkan perawatan,” ungkap Widihandoko, Rabu (27/4/2016).

Manfaatkan anak-anak

Berdasarkan hasil pemeriksaan, empat anak-anak di bawah umur yang turut ditangkap hanya ditetapkan sebagai saksi.

Dalam menjalankan aksinya, Zulkifli memperalat anak-anak tersebut dan memberi imbalan sebesar Rp 10.000 per orang dalam setiap kali beraksi.

“Dia memperalat anak-anak ini, dengan imbalan Rp 10.000 per orang, dan sampai dengan saat ini, anak-anak itu hanya dijadikan sebagai saksi, sifatnya diajak dan tidak menahu,” jelas Widihandoko.

Saat beraksi, pelaku awalnya berjumlah 8 orang. Namun, tiga di antaranya melarikan diri. Polisi pun sudah mengantongi identitas ketiganya, yaitu Bombon, Nuri, dan Sambi yang saat ini menjadi buronan.

“Kalau untuk anak-anak, mereka mengaku baru sekali ini. Kalau menurut keterangan ABK kapal, aksi ini sudah dilakukan berkali-kali, bahkan ABK sampai hapal ciri-ciri mereka,” katanya.

Modus yang dilakukan pelaku saat beraksi yaitu dengan mendekati kapal tugboat menggunakan perahu atau speedboat. Dalam setiap beraksi, pelaku selalu berjumlah 7 orang.

Tugboat itukan jalannya pelan, kemudian pelaku mendekati kapal itu dengan sampan atau speedboat bermesin. Kemudian mereka memaksa meminta BBM, dan itu tidak sedikit jika berulang kali,” katanya.

Widihandoko menambahkan, pelaku tak segan menggunakan senjata tajam dalam melancarkan aksinya. Targetnya, kapal tugboat yang menarik tongkang, karena kedua kapal itu tidak bisa melaju dengan kencang.

“Ini merupakan ancaman bagi pelaku usaha pelayaran di Kalbar, dan harus kita tindaklanjuti dengan memetakan kawasan rawan untuk dilakukan patroli secara rutin di wilayah tersebut,” tegasnya.

Saat ini, keempat anak tersebut masih berada di Mako Dit Polair Polda Kalbar. Sedangkan Zulkifli masih menjalani perawatan di RS Anton Soedjarwo.

Penulis: Kontributor Pontianak, Yohanes Kurnia Irawan

Editor: Farid Assifa

Sumber: kompas.com

Editor's choice